Jalan Poros Dongidongi-Napu Rusak Berat

Sabtu, 27 Februari 2010

KS - Poros jalan Dongi-Dongi-Napu di Sulawesi Tengah (Sulteng) kondisinya cukup memprihatinkan karena banyak badan jalan sudah hancur dan longsor.
Pengataman antara Sabtu (27/2), ruas jalan provinsi yang menghubungkan Palu, ibu kota provinsi dengan sejumlah desa di wilayah Kecamatan Lore, Kabupaten Poso itu, kini membutuhkan perhatian dari pemerintah.
   
Selain banyak badan jalan telah dilapisi aspal, namun kini mulai berlumbang-lubang, karena diterjang banjir, juga sebagian longsor sehingga memerlukan perbaikan. Poros tersebut juga merupakan jalur alternatif Palu-Poso.
   
Ruas jalan yang tingkat kerusakan paling parah dan membutuhkan penanganan secepatnya, terutama pada wilayah memasuki desa Sedoa, Kecamata Lore Utara.
   
Selain tanjakan yang mencapai dua km, juga terlihat badan jalan aspal sudah hancur dan berlubang dengan kedalaman berkisar 30-40 cm.
   
"Jika sopir tidak hati-hati, mobil bisa masuk jurang," ujar Nok (45), salah seorang sopir angkutan pedesaan yang melayani trayek Palu-Napu.
   
Pemerintah perlu segera melakukan perbaikan, sebab jika terus dibiarkan, kondisinya semakin tambah parah dan sangat rawan kecelakaan.
   
Poros Dongi-Dongi-Napu cukup ramai dilalui kendaraan angkutan barang dan penumpang. Kebanyakan kebutuhan masyarakat dipasok dari Palu, demikian juga hasil-hasil pertanian, perkebunan dan hutan kebanyakan diperdagangkan di ibukota Provinsi.
   
Dataran Kecamatan Lore, Kabupaten Poso merupakan sentra pengembangan hortikutura. Bahkan beberapa waktu lalu wilayah tersebut telah diresmikan sebagai Kawasan Terpadu Mandiri (KTM) di Sulteng.(*)

Gawat, Palu Berstatus KLB Demam Berdarah

Kamis, 25 Februari 2010

PALU--MI: Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), dinyatakan berstatus kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD) karena jumlah penderitanya selama Januari- Fabruari 2010 mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

"Hingga akhir Februari ini terdapat 316 penderita DBD, sedangkan pada waktu yang sama tahun sebelumnya hanya 127 penederita," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu Emma Sukmawati, Kamis (25/2). Ia menambahkan, tahun ini terdapat dua penderita DBD di Kota Palu yang meninggal.

Emma juga mengatakan, kasus DBD tidak terjadi di semua wilayah di Kota Palu. Kasus itu meningkat drastis di delapan dari 43 kelurahan di Kota Palu. Kedelapan klurahan tersebut adalah Palupi, Tatura Utara, Tatura Selatan, Birobuli Selatan, Tanamodindi, Talise, Besusu Timur, dan Kelurahan Lere.

Pemerintah, ujarnya, segera melakukan pengasapan (fogging) di delapan kelurahan
tersebut untuk mengurangi penyebaran kasus DBD. "Jangan sampai kasusnya meluas ke kelurahan lain karena bisa membuat masyarakat panik," ujar Emma.

Ia mengimbau masyarakat tetap melakukan pola hidup bersih dan sehat agar terhindar dari segala penyakit, termasuk DBD. Selain itu, katanya, gerakan 3M (menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mengubur benda-benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk) juga terus dilakukan untuk mencegah perkembangan nyamuk aedes aegypti.

"Jangan hanya mengandalkan fogging karena hanya berfungsi untuk sementara," kata Emma.

Sementara itu, pantauan di sejumlah rumah sakit di Kota Palu penunjukkan terjadi peningkatan jumlah pasien DBD yang dirawat. Bahkan, beberapa ruangan terlihat penuh sehingga pasien terpaksa dirawat di luar ruangan atau di ruang lain yang masih kosong. (Ant/OL-01)

Partai Demokrat Tetapkan Piet Inkriwang sebagai Kandidat Bupati Poso

Rabu, 24 Februari 2010



PALU--MI: DPD Partai Demokrat Sulawesi Tengah (Sulteng) tetap mendukung dan mengamankan kebijakan DPP Demokrat atas ditetapkannya Piet Inkriwang sebagai kandidat Bupati Poso 2010-2015, meski Piet dianggap tidak prosedural karena tidak melalui DPD Sulteng.

"Kandidat bupati Poso dari Demokrat sudah final. DPD tetap mendukung Piet Inkriwang," kata Sekretaris DPD Demokrat Sulteng Hendri Kawulur, di Palu, Rabu (24/2).

Dia mengatakan, meskipun DPD sudah memutuskan Piet Inkriwang, tetapi DPD tetap mempertanyakan alasan DPP mengeluarkan rekomendasi terhadap Piet yang tidak melalui prosedur seperti yang diatur secara internal oleh Demokrat.

"Kami akan tetap pertanyakan masalah ini. Kami ingin tahu apa alasan DPP," kata Hendri.

Piet Inkriwang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Poso dan Ketua DPC Demokrat setempat.

Menurut Hendri, DPD Demokrat Sulteng akan mengamankan kebijakan DPP untuk memenangkan Piet Inkriwang pada pemilu kepala daerah (pilkada) Poso Juni mendatang.

"DPD akan all out mengamankan kebijakan DPP dan memenangkan Piet," kata Hendri.

Wakil Ketua DPD Demokrat Sulteng Nawawi S Kilat mengatakan, dari lima kabupaten/kota yang melaksanakan Pilkada 2010, hanya Piet yang dinilai kader Demokrat paling siap bertarung.

Nawawi mengatakan, Demokrat sebetulnya berharap kepada Kabupaten Poso dan Kota Palu untuk mengusung kadernya sendiri menjadi kandidat bupati/wali kota, sebab hanya dua daerah ini kursi Demokrat di DPRD mencukupi satu fraksi.

"Tapi hanya Poso yang betul-betul siap," kata dia.

Sementara di Kota Palu, kader Demokrat hanya siap menjadi kandidat wakil wali kota. Rapat Tim Sembilan Demokrat, Senin (22/2) di salah satu hotel di Palu menetapkan Ketua DPC Kota Palu, Yos Soedarso Mardjuni sebagai kandidat wakil wali kota.

Siapun yang akan diusung Demokrat sebagai kandidat wali kota Palu, Yos Soedarso tetap dipasang sebagai calon wakil.

Menurut Nawawi, ada beberapa kader Demokrat yang punya kemampuan secara intelektual untuk menjadi kandidat wali kota, hanya saja belum punya kemampuan secara materi. (Ant/OL-02)

Parfi Sulteng Audisi Artis Film “Namaku Tolare”


KS -- Ini kesempatan bagi masyarakat Sulteng untuk menjadi pemain film televisi (FTV). Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Cabang Sulteng berencana menggelar audisi pemain film berjudul “Namaku Tolare.” Menurut rencana audisi akan dilaksanakan selama dua hari (1-2 Maret) di auditorium Dinas Pendidikan Daerah Sulteng.
“Kami membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Sulteng untuk ikut audisi FTV tersebut,” kata Sekum Parfi Sulteng Fathuddin Mujahid melalui siaran pers yang diterima redaksi tadi malam (24/2).
Kata Fathuddin, untuk menjadi pemain film Namaku Tolare, calon aktor dan artis harus memenuhi persyaratan, misalnya usia minimal 15 tahun, berpenampilan menarik, menyediakan satu lembar foto diri ukuran post card, dan foto kopi identitas diri. Semua persyaratan itu masuk sebelum audisi dan casting dimulai di lokasi audisi.
Fathudddin yang juga produser film tersebut mengatakan, calon aktor dan artis akan diseleksi secara ketat oleh tim audisi selama dua hari. “Kami yakin banyak bakat terpendam di daerah kita, olehnya inilah kesempatan emas mereka untuk berakting di depan kamera,’’ katanya.
Katanya, hasil audisi akan direkomendasikan untuk terlibat dalam penggarapan film Namaku Tolare, naskah Hidayat Lembang. Lokasi penggarapan film itu di Kota Palu dan sekitarnya. Pihak Parfi Sulteng sudah melakukan hunting lokasi dan terus berkoordinasi dengan rumah produksi yakni in:Comm smart communication pimpinan Budi Cahyana. “Insya Allah minggu kedia Maret kita Sudah mulai shooting,” kata Fathuddin.
Revi Arifin Passau, asisten sutradara FTV Namaku Tolare mengatakan, FTV ini digarap oleh Hery Bedul seorang sutradara yang sudah berpengalaman di dunia sinema. “Semua peralatan film didatangkan dari Jakarta. Kita hanya menyiapkan lokasi dan keperluan lain pendukung garapan,” kata Revi. “Kami mendapat support dari Pemda Sulteng dan Pemkot Palu, semoga ini bisa menghasilkan film bermutu dan layak ditonton,’’ katanya.(sya/*)
Sumber: http://www.radarsulteng.com 

Waspada, Jumlah Pasien DBD di Kota Palu Terus Meningkat

Minggu, 21 Februari 2010

KS -- Semua pihak diharap waspada. Jumlah pasien penderita demam berdarah di Kota Palu Sulawesi Tengah (Sulteng), terus mengalami peningkatan drastis.

Data yang dihimpun Media Indonesia, Minggu (21/2), dari sejumlah rumah sakit di daerah setempat tercatat 258 pasien demam berdarah yang dirawat sejak awal Januari 2010 hingga memasuki pekan ke-empat bulan Februari.

Dari 285 pasien, tiga orang di antaranya meninggal dunia. Di rumah sakit umum daerah (RSUD) Anutapura Palu masih merawat puluhan orang pasien DBD.

Paviliun Nuri yang khusus merawat pasien anak sudah dipenuhi dengan pasien. Jumlah tersebut belum termasuk beberapa ruangan lainnya yang juga sudah dipenuhi pasien demam berdarah.

Angka pasien yang dirawat di berbagai rumah sakit di Palu meningkat pada bulan Januari mencapai 143 pasien meningkat dibanding pada bulan yang sama pada tahun 2009 lalu yang hanya 71 kasus DBD.

Sementara, memasuki pekan ke-empat bulan Februari jumlah pasien DBD sudah mencapai 114 pasien. Jumlah itu terhitung banyak dibanding bulan yang sama tahun lalu yang hanya ditemukan 56 kasus.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Palu, Royke Abraham mengaku umumnya pasien yang terserang dbd anak-anak dibawah sepuluh tahun. "Faktor penyebab serangan DBD karena perubahan cuaca dan buruknya sanitasi lingkungan sehingga menjadi sarang berkembangnya nyamuk demam berdarah," katanya di Palu Minggu (21/02).

Pihak rumah sakit mengimbau warga masyarakat jika terserang gejala-gejala dbd seperti demam dan panas tinggi segera berobat ke tenaga medis terdekat sehingga cepat mendapatkan pelayanan guna mencegah jatuhnya korban jiwa.(HF/OL-02)
Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Kolera Mengganas, Empat Meninggal di Sigi, Sulteng

Jumat, 12 Februari 2010

KS/MI: Wabah penyakit kolera mengganas di wilayah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Dalam kurun dua terakhir hari terakhir, tercatat empat warga meninggal dunia akibat serangan penyakit tersebut.

Informasi yang diperoleh Media Indonesia di lapangan menyebutkan wabah kolera menyerang 56 warga RT 7, Desa Petimbe, dan Desa Bunga, Kecamatan Palolo. Empat korban meninggal dunia yakni pasangan suami istri Sali, 41, dan Olivina, 33, lalu Nolvi, 8, dan Koi, 70. Korban Sali dan Olivina, baru diketahui meninggal pada Selasa (9/2). Dua korban lainnya diketahui Rabu pagi (10/2).

Data pemerintah desa setempat menyebutkan 80 keluarga tinggal di dusun yang terletak di kaki pegunungan Desa Petimbe. Tempat tinggal para korban cukup terisolir. Untuk menjangkaunya, dibutuhkan waktu sekitar dua jam dengan naik motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Jauhnya jarak tempuh tiba di lokasi dari Desa Petimbe membuat informasi wabah kolera terlambat diketahui pihak puskesmas dan pihak kecamatan. Kondisi geografis itu menyebabkan warga yang terserang wabah kolera terlambat mendapat pertolongan tenaga medis.

Camat Palolo Asrul Repadjori saat dikonfirmasi membenarkan bahwa empat orang yang menjadi korban wabah kolera. Hingga kini masih ada beberapa warga yang masih dirawat intensif di Puskesmas Palolo. "Syukurlah kondisi tiga warga yang dirawat sudah menunjukkan perubahan karena telah mendapatkan pertolongan medis," ujar Repadjori Kamis dini hari (11/2).

Kepala Puskemas Palolo dr Alexander F Katiandago mengatakan tempat mewabahnya kolera itu di kawasan pegunungan dan lokasinya sangat terpencil. Salah satu penyebabnya karena sumber air minum yang dikonsumsi warga air kali yang kotor. Meski sudah dimasak, namun tidak dijamin bebas kuman. Warga juga kurang memperhatikan pola hidup bersih dan sehat.

Pihaknya juga telah meminta bantuan Polri/TNI untuk melakukan pelacakan kemungkinan masih adanya warga yang telah terjangkit namun belum diketahui kondisinya. Obat-obatan masih mencukupi. Dinas Kesehatan Sigi dan Propinsi Sulteng telah menyalurkan bantuan. Intansi terkait telah menerjunkan tenaga medis di lokasi agar cepat mengambil langkah dan tindakan jika ditemukan masih ada warga yang terserang wabah kolera. (HF/OL-04)
Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Polda Sulteng Ultimatum Penambang Emas Liar di Poboya

Jumat, 05 Februari 2010

Polda Sulteng Ultimatum Penambang Emas Liar di Poboya

KS -- Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng) memberikan batas waktu hingga 12 Maret 2010 bagi penambang emas ilegal di kawasan Poboya, Kecamatan Palu Timur Kota Palu untuk meninggalkan lokasi tersebut. Jika mangkir akan dikenakan tindakan tegas sesuai hukum yang berlaku.

Kepala Bidang Humas Polda Sulteng AKB Irfaizal Nasution mengatakan batas waktu yang diberikan Polda Sulteng jika tidak ada kesepakatan antara Pemerintah Kota (Pemkot) Palu dan PT Citra Palu Mineral (CPM) Regulasi yang disepakati kedua belah pihak itu harus segera ada sebelum diberlakukan penegakan hukum pada 12 Maret mendatang. PT. CPM sebagai pemegang lahan konsesi tambang Poboya.

"Jika tidak ada kesepakatan hingga batas waktu yang ditentukan akan dilakukan penegakan hukum bagi penambang emas ilegal," ujar Irfaizal Nasution kepada Media Indonesia di Palu Rabu (3/2).

Irfaizal juga mengatakan pihaknya akan menindak tegas jika ditemukan ada anggota polisi memiliki usaha dilokasi tambang Poboya. "Aturan itu termasuk jika ada oknum polisi yang ditemukan membekingi penambang langsung diproses secara hukum di bagian Profesi dan Pengamanan," tegas Irfaizal.

Menurutnya sejak awal sebelum ramai aktivitas tambang emas setahun lalu sebenarnya Polda Sulteng dapat memberikan penindakan hukum. Harapannya, penambang sudah meninggalkan aktivitas di Poboya namun justru lain penambang makin banyak jumlahnya mencapai ribuan orang kebanyaka dari luar Sulteng. "Jika kondisi saat ini dibiarkan terus akan semakin parah," katanya.

Jika ada sekelompok masyarakat yang akan menentang penindakan hukum di lokasi tambang Poboya, menurut Irfaizal salah sasaran karena aparat kepolisian hanya menegakan hukum. Yang mestinya berperan aktif Pemkot Palu untuk menerbitkan regulasi.

Sebelumnya, Walhi Sulteng menyatakan kawasan pertambangan Poboya di Kecamatan Palu Timur di Kota Palu harus dimoratorium atau dihentikan. Apalagi sampai saat ini kawasan tambang itu belum ada legalitasnya.

Pemprov Sulteng dan Pemkot Palu sudah lama diminta melakukan penutupan, namun nyatanya sampai sekarang belum ada tindakan. Menurut Direktur Eksekutif Walhi Sulteng, Silviana Willianita data Walhi Sulteng mencatat sedikitnya sudah ada 12 penambang yang meninggal dunia selama tambang tersebut dikelola secara massal tahun lalu. (HF/OL-06)
Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Disiksa, TKI Asal Sulawesi Tengah Kabur dari Malaysia

KS --  Merry Yuliani, 23, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, melarikan diri karena tidak betah dan mengalami penyiksaan selama lima tahun bekerja di Malaysia.

Merry yang berasal dari Desa Pesaku itu tiba di Bandara Mutiara Palu, Rabu (3/2), bersama sejumlah aktivis LSM yang peduli terhadap kaum buruh migran.

Saat ditemui di Bandara Mutiara, Merry mengaku tidak pernah menerima gaji selama dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.  "Majikan mengatakan gaji saya akan diberikan secara total setelah bekerja beberapa tahun, tapi sampai sekarang saya tidak memegang uang sepeser pun," katanya, yang juga mengaku pernah berkirim surat ke kampung halaman tapi tidak pernah  mendapat balasan.

Dia juga mengaku sering disiksa oleh majikannya di Malaysia, seperti ditampar, dipukul, ditendang, dan bahkan sempat tidak diberi makan. Beberapa alasan itulah yang membuat Merry tidak kerasan dan memutuskan untuk melarikan diri ke Tanah Air.

Merry yang bekerja sejak awal 2005 ini kabur ke Jakarta pada Oktober 2009 dengan menggunakan jalur laut. Merry dan kedua temannya sesama TKW tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, dan saat itulah aktivis dari Peduli Buruh Migran (PBM) menemukannya.

Suster Ninsansia, aktivis yang menemukan Merry kemudian merawatnya hingga akhirnya dipulangkan ke Sulawesi Tengah. Merry diantar sejumlah aktivis PBM dan jemaat gereja di Sulawesi Tengah diantar ke kampung halamannya di Desa Pesaku, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi.

Suster Ninsansia sempat menyayangkan ketidakpedulian pemerintah mengatasi buruh migran yang nasibnya merana. "Sebenarnya ini adalah tanggung jawab negara melalui departemen terkait. Tapi mau bagaimana lagi, daripada Merry dan kawan-kawannya terus telantar di Jakarta terpaksa kita yang memulangkannya," ujarnya.

Beberapa waktu sebelumnya terdapat sejumlah kasus buruh asal Sulawesi Sulteng yang melarikan diri karena alasan yang dikemukakan Merry. Bahkan, pernah terdapat seorang TKI yang juga berasal dari Kabupaten Sigi yang pulang dalam keadaan tidak bernyawa. (Ant/OL-03)
Sumber: http://www.mediaindonesia.com
 
Support : Copyright © 2011. KORAN SULTENG - All Rights Reserved