Mulai 1 Juli, Garuda Terbang ke Palu

Senin, 24 Mei 2010


KS -- Kota Palu, Sulawesi Tengah, akan semakin mudah diakses. Pesawat Garuda Indonesia akan memulai penerbangan ke Palu pada 1 Juli mendatang. Pembukaan rute ini akan menarik lebih banyak kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik ke daerah ini.

"Menurut pengalaman kami, wisatawan mancanegara itu, terutama dari Eropa, percaya kepada Garuda untuk menerbangkan mereka ke tujuan yang diinginkan di Indonesia," kata Direktur Avia Tour, perusahaan perjalanan wisata terbesar di Palu, Selasa (18/5/2010).

Garuda Indonesia akan memulai penerbangan ke Palu dengan rute Jakarta-Makassar-Palu pada 1 Juli 2010 menggunakan pesawat Boeing 737-400.

Pesawat itu akan berangkat dari Jakarta pukul 06.00 WIB dan tiba di Makassar pukul 09.00 wita, lalu terbang ke Palu dan tiba pukul 10.30 wita. Pada pukul 11.00 wita akan kembali ke Makassar dan Jakarta.

"Kami telah diundang Garuda untuk berdiskusi soal rute baru mereka ini. Garuda mau terbang ke Palu sore hari tetapi kami minta pagi hari karena antara pukul 07.00 sampai 14.00 wita tidak ada penerbangan dari dan ke Bandara Mutiara Palu," ujarnya.

Dengan penerbangan pagi ini, kata Ary, para pengguna jasa Garuda akan lebih nyaman memanfaatkan ruang tunggu penumpang yang terbatas di Bandara Mutiara sebab tidak ada maskapai lain yang beroperasi pada waktu tersebut.

Menurut dia, penerbangan ini akan mampu meningkatkan kunjungan wisman ke Palu, terutama dari Eropa setelah Garuda kembali diizinkan Uni Eropa untuk terbang langsung ke benua itu.

"Eropa adalah pasar wisata Sulteng yang paling besar. Sebanyak 90 persen wisman yang berkunjung ke daerah ini berasal dari Eropa," ujarnya. Menurutnya, kunjungan wisman ke Sulteng kini berangsur pulih pascakonflik Poso 1999-2000.

Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulteng mencatat, kunjungan wisman tahun 2009 mencapai 3.800 lebih, naik 112 persen dibanding 2008 sekitar 1.850 orang.

Wisatawan asing paling menyukai obyek wisata selam (diving) di Taman Laut Kepulauan Togian, Kabupaten Tojo Unauna dan petualangan (tracking) di Taman Nasional Lore Lindu yang masuk dalam wilayah Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi.(antara)
Sumber:http://www.enjoysulawesi.com

Festival Togian Kembali Digelar


KS -- Festival Togian akan kembali digelar. Tahun 2010 ini, Festival Togian akan dilaksanakan pada 23-27 Juli mendatang. Berbagai atraksi seni dan budaya daerah serta wisata kuliner dapat Anda nikmati. Anda juga dapat merasakan keramahan putra dan putri wisata Togian.

Sejak tahun 2006 festival masyarakat kepulauan ini mulai dilaksanakan. Festival Togian kelima ini akan digelar di Ampana, Ibu Kota Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah.

Kepulauan Togian adalah sebuah taman laut yang indah. Banyak wisatawan asing yang menyebut daerah ini sebagai surga dunia tropis. Terdapat lebih dari 100 spot penyelaman dengan terumbu karang yang sangat sehat di sana. Alam permukaannya pun indah

Pulau-pulau terbentuk dari formasi karang dan tanah yang subur akibat aktivitas vulkanis jutaan tahun silam. Seluruhnya tampak hijau ditumbuhi rimbunan pohon dengan perbukitan karang yang menyembul di sana-sini. Berpadu dengan hamparan laut biru yang bersih.

Di Togian terdapat pemukiman Suku To Bobongko dan Tau Bajo. Perkampungan mereka berdiri di atas laut, di perbukitan karang, dan di tepi pantai. Berbagai kreasi dari alam dan kehidupan unik orang Togian bakal ditampilkan pada festival mendatang.

Karena berbagai keindahan dan keunikan itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia menetapkan Taman Laut Kepulauan Togian sebagai ikon pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah.

"Kemenbudpar sudah mendesak agar ikon pariwisata tersebut dideklarasikan. Namun kami masih mencari waktu yang tepat," kata Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kabupten Tojo Unauna, Jusuf Watulalo, di Palu, Kamis (20/5/2010) lalu.

Pemerintah Kabupaten Tojo Una-una mengusulkan agar deklarasi itu dilakukan pada saat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik membuka kegiatan kepariwisataan nasional bertajuk Kemilau Sulawesi 2010 di Palu pada pertengahan Juni nanti.(*)

Sumber:http://www.enjoysulawesi.com

Atasi Krisis di Sulteng, PLN Datangkan Mesin Disel 10 Mw

Jumat, 21 Mei 2010


KS -- PT PLN Persero mendatangkan mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke Palu untuk membantu mengatasi masalah pemadaman bergilir yang terjadi di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Kedatangan mesin berkapasitas 10 mega watt (Mw) ini diharapkan bisa membuat byar pet yang sudah berlangsung beberapa pekan ini bisa teratasi.

"PLN menganggap pemadaman bergilir berkelanjutan di Palu adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir karena Palu adalah ibukota propinsi. Karena itu berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir dan menyelesaikan masalah pemadaman," jelas Manajer Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto, dalam siaran pers, Kamis (20/5).

Menurut Bambang, kedatangan PLTD ini memiliki nilai strategis untuk membantu kekurangan pasokan daya listrik yang terjadi di Palu sebesar 32 MW. Diperkirakan proses pemasangan dan penyalaan mesin memakan waktu 10 hari.

"Memang masih terdapat defisit listrik. Karena itu menempuh berbagai upaya lain, diantaranya mengambil alih pasokan batu bara ke PLTU Mpanau" ujar Bambang.

Diperkirakan 5.500 ton batu bara dari Kalimantan akan tiba di Palu 22 Mei ini. Listrik di Palu mengalami pemadaman hingga 18 jam per hari. Pemadaman terjadi karena pembangkit listrik tenaga uap Mpanau berhenti beroperasi karena kehabisan batu bara.

Kota Palu dan sekitarnya kehilangan daya 22 megawatt dan pemadaman semakin meluas sejak minggu lalu. Di Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB), pemadaman juga kerap terjadi hingga lima jam per hari karena pasokan listrik yang kurang. (Jaz/OL-03)
Sumber:http://www.mediaindonesia.com

Togian, Andalan Wisata Bahari Sulteng

Rabu, 19 Mei 2010



Koran Sulteng.com - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan Taman Nasional Kepulauan Togian di Kabupaten Tojo Una-una sebagai pusat pengembangan wisata bahari yang akan dikelola secara lebih profesional dan dijual secara aktif ke mancanegara.

"Togian sangat menarik dan sudah dikunjungi banyak wisatawan. Kami akan terus mengembangkannya sehingga lebih banyak lagi wisatawan mancanegara datang ke sana," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Tengah, Suaib Djafar di Palu, Rabu (19/5/2010).

Pengembangan Togian akan melibatkan pihak swasta, baik asing maupun domestik yang akan membangun akomodasi dan menyediakan sarana bagi wisatawan yang akan menikmati keindahan alam bawah laut di kawasan itu.

Menurut Suaib, Pemda akan mendukung kegiatan promosi dengan menggelar Festival Bahari Kepulauan Togian setiap tahun, dan untuk 2010, festival akan digelar 23-27 Juli 2010 di Ampana, Ibu Kota Kabupaten Tojo Una-una, daerah pemekaran Kabupaten Poso pada 2002.

Mengenai akses, kata Suaib, Pemkab Tojo Una-una sedang membangun sebuah lapangan terbang di Ampana yang bisa didarati pesawat berbaling-baling berkapasitas sekitar 50 orang.

Akses darat cukup lancar yakni jalan trans Sulawesi sekitar 150 kilometer dari Poso, sementara Kota Poso bisa djangkau dengan penerbangan langsung dari Makassar (Sulsel) atau Palu (Sulteng).

Direktur Avia Tour, perusahaan perjalan wisata terbesar di Sulteng, Ary Wowor pada kesempatan terpisah mengatakan, Taman Laut Togian saat ini dikunjungi ratusan wisatawan asing dari Eropa yang menikmati surga bawah laut di perairan itu.

"Sarana akomodasi di sana sampai-sampai tidak mampu menampung turis Eropa itu sehingga mereka terpaksa tidur di lantai penginapan yang dikelola pengusaha bule," ujarnya.

Menurut Ary, kunjungan yang membludak ini diperkirakan terjadi sampai Agustus 2010 karena banyak turis memanfaatkan libur musim panas di negaranya untuk datang ke Indonesia.

Turis asing ini, kata Ari yang juga Ketua Dewan Penasihat Asita Sulteng itu, masuk Togian melalui Denpasar (Bali) lalu ke Makassar (Sulsel) dengan pesawat terbang dan Tanah Toraja lewat jalan darat sekitar 300 km kemudian ke Togian juga via darat sekitar 350 km.

Menurut dia, wisatawan asing ramai masuk Togian karena pengusaha perjalanan wisata di Bali dan Jakarta serta sejumlah kota di Indonesia aktif menjual Togian setelah Asita Sulteng membawa mereka melihat keindahan Togian pada 2007.(http://travel.kompas.com)

Jalan Tinggede Akhirnya Jadi "Lahan Pertanian"

Sabtu, 15 Mei 2010


KS/ KOMPAS.com - Warga Desa Tinggede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, ramai-ramai memblokir jalan raya dari dan ke Kota Palu yang melintas di wilayah itu dengan menanam berbagai tanaman produktif di atas badan jalan.

Tindakan itu dilakukan puluhan warga sejak Jumat (14/5) yang mengaku marah kepada pemerintah karena seolah tutup mata dan telinga terhadap keluhan warga agar jalan yang sudah hampir sepuluh tahun
rusak itu segera diperbaiki.

Dilaporkan, Sabtu (15/5/2010), badan jalan sepanjang lebih tiga kilometer di permukiman padat penduduk di Tinggede itu tidak bisa dilewati kendaraan roda empat kecuali sepeda motor karena badan jalan ditanami tanaman pisang, pepaya, ubi kayu, dan pohon kelor, sayuran khas masyarakat Kaili.

Anwar (67), salah seorang tokoh masyarakat Tinggede mengatakan, pemblokiran jalan itu dilakukan sebagai bentuk protes dan kemarahan kepada pemerintah Kabupaten Sigi yang tidak pernah memperbaiki jalan yang sudah bertahun-tahun rusak.

"Sudah lebih 10 tahun jalan ini rusak, dan sampai sekarang belum juga mendapat perhatian dari pemerintah, padahal rakyat sudah berkali-kali mendesak pemerintah provinsi dan kabupaten, namun tidak ada tanggapan sama sekali," ujarnya.

"Warga sudah bosan, karena kerusakan jalan ini telah berkali-kali disampaikan kepada Pemprov Sulteng, Pemkab Donggala, dan Sigi tetapi sepertinya pemerintah tutup mata," katanya dengan nada kesal.

Pemanasan Global Adalah Masalah Kita Bersama

Jumat, 07 Mei 2010

TCN -- The Climate Project Indonesia (TCPI) mengadakan pelatihan bagi connector atau juru bicara perubahan iklim. "Agar kesadaran warga terhadap penyebab, dampak, dan solusi mengatasi perubahan iklim makin luas," kata Dr Amanda Katili, Koordinator The Climate Project Indonesia. Pelatihan tanpa dipungut biaya ini akan berlangsung pada 24 April nanti, pukul 08.00-17.00, di Jakarta diikuti 300 peserta, dari rencana semula yang hanya akan diikuti 250 peserta. Namun panitia amat kesulitan karena begitu banyaknya peminat yaitu 1.500 sedangkan yang dapat mengikuti hanyalah 250 orang. Maka seluruh peminat itu diseleksi, namun akhirnya terpaksa diikuti 300 peserta dari seluruh Indonesia. Uniknya, seluruh peserta mengusahakan sendiri transportasinya termasuk dari luar Jakarta, seperti penulis, dari Toraja ke Makassar dan ke Jakarta.
The Climate Project Indonesia merupakan bagian dari The Climate Project yang didirikan Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat. Setiap tahun, Gore, yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2007, melatih ratusan individu di seluruh dunia menjadi presenter. Dari Indonesia, sudah ada 150 orang yang dilatih langsung oleh Al Gore di Melbourne. Salah satu tugas presenter adalah melatih individu menjadi connector.
Keikutsertaan penulis, dalam program ini berdasarkan seleksi yang telah dilakukan sebulan sebelumnya berdasarkan isian online yang dilakukan oleh Juri. Sekitar 250 orang telah hadir dalam pelatihan The Grand Trainning Connectors– The Climate Project Indonesia pada hari Sabtu tanggal 24 April 2010 lalu di hotel Sari Pan Pasific Jakarta.
Kegiatan ini sangat mendapatkan perhatian yang luarbiasa dari masyarakat. Sekitar 1500 peminat yang mendaftar yang berminat mengikuti acara ini namun yang terpilih hanya sekitar 250 orang. Peristiwa ini begitu luarbiasa bagi saya, karena peserta yang hadir tidak hanya dari kalangan ilmuwan yang benar-benar mengerti tentang perubahan iklim atau lingkungan namun dari berbagai macam profesi. Latar belakang peserta antara lain pejabat negara, dosen, peneliti, guru, Puteri Indonesia, petani, pegiat lembaga swadaya masyarakat, pelajar, aktivis, profesional, pemuka berbagai agama, dan ibu rumah tangga bahkan pelajar SD yang baru berumur 11 tahun yang bernama fira meutia yang merupakan peserta termuda dalam acara pelatihan ini pun ikut dalam acara pelatihan Connectors terbesar yang pernah diadakan di Indonesia.
Hal ini disampaikan sendiri oleh ketua The Climate Project Indonesia Ibu Amanda Katili P.hD bahwa pelatihan ini merupakan pelatihan connectors terbesar yang pernah diadakan di Indonesia. Pelatihan Connectors ini sendiri bertujuan untuk menambah jaringan di seluruh Indonesia untuk menyampaikan pesan tentang perubahan iklim. Pelatihan ini diikuti peserta dari berbagai macam daerah. Selain dari sejumlah kota di Jawa, peserta juga ada yang datang antara lain dari Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Bali. Pelatihan ini dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan sambutan dari Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim, Dr. Rachmat Witoelar yang kemudian dilanjutkan oleh Ibu Amanda Katili P.hD sebagai Ketua The Climate Project Indonesia.

Pelatihan ini menampilkan trainers dan Presentasi sangat menarik dan diberikan oleh mereka yang mumpuni untuk memberikan pelatihan, seperti Dr Armi Susandi, yang disebut sebagai Al Gore nya Indonesia, Suzy Hutomo Praktisi sekaligus Business lady, Nana Firman dan Ibu Mia Juliana tentang cara meyakinkan para skeptice, Charles Bonar Sirait, seorang ahli public speaking dimana para presenter dilatih bagaimana cara menampilkan presentasi di depan orang banyak dll. Pada pelatihan ini juga peserta diberikan kesempatan untuk berinteraksi antara sesama peserta pelatihan sehingga diharapka para peserta nantinya mampu bekerja sama untuk melakukan presentasi di suatu komunitas. 250 peserta yang hadir dibagi dalam beberapa kelompok dan tiap kelompok sendiri dibimbing oleh para mentor yang juga merupakan Presenter The Climate Project Indonesia sehingga para peserta bisa menanyakan dan dibimbing secara langsung oleh para mentor apabila kurang mengerti mengenai persoalan-persoalan dalam pelatihan ini. Tidak kalah menariknya training ini bersifat informal namun disediakan package gratis berupa goody bag untuk para konektor yang berisi USB, Rompi, DVD berisi film dokumenter tentang perubahan iklim, beberapa buku menyangkut perubahan iklim bahkan diberikan secara gratis buku Kepemimpinan Ala SBY dan bahan-bahan presentasi yang nantinya kelak berguna bagi para connectors melakukan presentasi di komunitas yang telah mereka pilih. Pengantar ucapan selamat diucapkan oleh Jeanne Clad melalui tayangan video. Jadi cara ini sungguh efisien dilakukan karana sangat membantu memberikan semangat bahwa training ini benar benar dilakukan dengan network mendunia. Jadi semua peserta tidak bekerja sendiri, ini merupakan gerakan dari 7000.000 presentasi yang telah tersentuh oleh metode Al Gore dengan The Climate Projectnya, dan mengikut sertakan 3000 presenter yang telah ditraining oleh Al Gore.
Kini, bagi peserta, akan mengabdikan ilmunya untuk kepentingan bersama demi menyelamatkan bumi. Ayo marilah bersama menyelamatkan bumi ini.

Laporan:Aleksander Mangoting

PESAN OIKUMEN PGI DALAM RANGKA BULAN OIKUMENE 2010

TCN -- Menyambut Bulan Oikumene 2010, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)mengirimkan pesan kepada umat Kristiani,dengan harapan: "...gereja-gereja di Indonesia, dalam persekutuannya, dapat menyaksikan kebaikan Tuhan itu kepada setiap orang melalui perbuatan baik yang tidak membeda-bedakan antara kelompok yang satu dan kelompok yang lain. Dalam persekutuannya, gereja-gereja di Indonesia dipanggil untuk bersaksi lewat aksi kemanusiaan yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, menegakkan keadilan dengan benar dan membela hak-hak orang yang ditindas oleh karena ketidakadilan. Gereja-gereja di Indonesia, dalam persekutuannya, hendaknya terus-menerus memberitakan Injil kepada segala makhluk dalam kasih yang membangun kebersamaan tanpa bersikap diskriminatif."

Berikut petikan lengkap pesan Oikumene PGI:

"TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG..." (Bnd. Mazmur 145: 9a)

Saudara-saudari warga gereja yang dikasihi Yesus Kristus!
Proficiat! Tahun ini Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mencapai usia 60 tahun. Ini menandakan bahwa perahu gerakan oikumene di Indonesia ini telah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Pada saat wadah oikumene ini pertama kali diikrarkan tanggal 25 Mei 1950 dengan nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), ia beranggotakan 29 sinode. Kini, enam dekade kemudian, PGI telah beranggotakan 88 sinode Gereja yang terdiri dari berbagai aliran. Ini menandakan bahwa Tuhan masih menyertai perjalanan gerakan oikumene gereja-gereja di Indonesia dan masih terus menyertai pekerjaan-Nya untuk mempersatukan gereja-Nya di dunia, karena itu patutlah kita merayakannya dengan sukacita.
Setelah 60 tahun berada dalam perahu gerakan oikumene di Indonesia, tentu banyak hal yang telah kita lalui bersama. Tidak dapat kita elakkan bahwa ada saatnya di mana hubungan kita mengalami ketegangan dan kecurigaan karena berbagai masalah yang kita jumpai. Bahkan ada juga selisih paham di antara kita, kemarahan dan keinginan untuk berpisah. Namun, karena kebaikan Tuhan jua lah akhirnya kita dapat menyelesaikan berbagai masalah tersebut dan terus bersama-sama bergandengan tangan kembali mengarungi samudera pelayanan dan kesaksian di tengah dunia yang terus-menerus berubah ini.
Inilah perwujudan janji kita bersama untuk mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa (GKYE) di Indonesia. Janji yang diikrarkan para pendiri PGI enampuluh tahun yang lalu dan yang kita warisi kini sebagai penerus mereka; walau tentu telah banyak hal yang berubah apabila dibandingkan dengan situasi dan keadaan pada tahun 1950 ketika PGI (pada saat itu DGI) pertama kali didirikan.
Pada saat itu “kemajemukan” ada di luar tubuh PGI, kini kemajemukan adalah bagian PGI itu sendiri. Inilah “kekayaan” PGI yang dianugerahkan Tuhan sebagai sebuah gerakan oikumene yang terus-menerus berupaya untuk bersatu. Sebagaimana doa Tuhan kita Yesus Kristus: “... supaya mereka semua menjadi satu, ... supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku...” (Yoh. 17:21).
Di bawah sorotan tema Sidang Raya XV PGI: “Tuhan itu baik kepada semua orang,” yang terambil dari Mazmur 145:9a, gereja-gereja di Indonesia ingin menegaskan betapa pentingnya kemajemukan. Inilah dasar Alkitabiah kita. Ayat ini adalah penggalan dari Mazmur 145 yang merupakan puji-pujian Daud atas kebaikan TUHAN. Daud mengagungkan Tuhan atas kebaikan yang telah dialami selama hidupnya. Penggalan ayat ini berada di dalam bagian kedua struktur keseluruhan kitab Mazmur ini yang mengajak untuk merayakan perbuatan-perbuatan Allah yang baik kepada alam semesta dan isinya.
Tuhan itu Pengasih dan Penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya. Rahmani dan Rahimi. Hal ini memperlihatkan bahwa Allah diyakini oleh umat Israel bukan saja bagi mereka, melainkan juga bagi seluruh umat manusia, bahkan bagi seluruh alam-semesta. Israel bukanlah satu-satunya penerima “kasih-setia”, tetapi juga seluruh insan tanpa memandang suku, agama, ras, etnis, jender dan golongan. Penginjil Matius menggemakan kembali kasih-setia Allah yang universalistis ini dalam kalimat “Tuhan menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45). Maka menjadi kewajiban kita untuk merefleksikan kebaikan Allah ini kepada siapa saja melalui kesaksian dan pelayanan kita. Inilah wujud keesaan kita sebagai persekutuan gereja-gereja yang ada di Indonesia. Kita bersama mengakui bahwa kita dipanggil untuk bersaksi tentang kebaikan Tuhan kepada semua orang. Bahwa PGI ada hingga sekarang adalah bukti betapa kehadirannya masih dibutuhkan dan kesaksiannya masih dinantikan oleh semua orang. PGI bukanlah milik gereja-gereja anggota PGI saja, tetapi juga milik bangsa Indonesia.
“Tuhan itu baik kepada semua orang.” Inilah juga kerinduan gereja-gereja di Indonesia untuk mewujudnyatakan kasih-setia Tuhan kepada semua orang, baik di Indonesia maupun di tempat-tempat lainnya. Ia juga lahir dari keprihatinan gereja-gereja di Indonesia terhadap kenyataan bahwa bangsa ini mulai melupakan jati-dirinya yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kecenderungan ini ditandai dengan semakin tersekat-sekatnya bangsa ini menjadi kelompok-kelompok sektarian yang mengagungkan indentitasnya sendiri dan cenderung menolak keberadaan kelompok lain. Sementara, kemajemukan adalah warisan bangsa Indonesia yang tidak dapat ditiadakan.
Melalui pesan ini diharapkan gereja-gereja di Indonesia, dalam persekutuannya, dapat menyaksikan kebaikan Tuhan itu kepada setiap orang melalui perbuatan baik yang tidak membeda-bedakan antara kelompok yang satu dan kelompok yang lain. Dalam persekutuannya, gereja-gereja di Indonesia dipanggil untuk bersaksi lewat aksi kemanusiaan yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, menegakkan keadilan dengan benar dan membela hak-hak orang yang ditindas oleh karena ketidakadilan. Gereja-gereja di Indonesia, dalam persekutuannya, hendaknya terus-menerus memberitakan Injil kepada segala makhluk dalam kasih yang membangun kebersamaan tanpa bersikap diskriminatif.
Di tahun 2010 ini, yang sekaligus menandai berakhirnya program “Dekade Mengatasi Kekerasan,” gereja-gereja di Indonesia dipanggil untuk terus-menerus menyatakan kasih Allah yang mendamaikan semua orang dalam tindakan-tindakan nir-kekerasan.
Pada akhirnya, kami ingin mengajak gereja-gereja untuk:
Pertama, bersungguh-sungguh dan tanpa mengenal lelah memperkuat persekutuan dalam wadah PGI guna bersama-sama dengan semua orang percaya mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia.
Kedua, menjadi teladan dalam menyatakan kebaikan Tuhan kepada ciptaan-Nya yang meliputi sesama manusia, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan seluruh alam semesta. Agar kebaikan Tuhan itu terus-menerus terpancar sebagai bentuk kesaksian kita kepada orang lain demi kehidupan bersama yang penuh kedamaian.
Ketiga, bersama-sama seluruh komponen bangsa mewujudkan masyarakat majemuk Indonesia yang berkeadaban, inklusif, adil, damai dan demokratis demi tercapainya tujuan bangsa Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.
Demikianlah pesan dan harapan kami di Bulan Oikoumene 2010 ini. Kiranya Tuhan semakin memberkati segala upaya kita dalam mewujudkan keesaan gereja-Nya di Indonesia. Selamat merayakan Bulan Oikoumene.

Jakarta, Mei 2010
Atas nama MAJELIS PEKERJA HARIAN.

Pdt. Dr. A.A. Yewangoe.
Ketua Umum

Pdt. Gomar Gultom, M.Th
Sekretaris Umum

Express Air Mulai Buka Rute Poso-Makassar


KS/MI: Satu lagi maskapai dalam negeri, Express Air dipastikan menerbangi rute dari dan ke Poso dan jika tidak ada aral melintang rute penerbangan itu resmi dibuka Rabu (12/5).

Kepala Dinas Perhubungan Poso, Husni Moh Kasim, Jumat (6/5), mengatakan, penerbangan perdana pesawat Express Air dari Poso menuju Makassar akan dilakukan dengan upucara adat setempat. Dalam acara itu, Pemkab Poso akan mengundang juga bupati dan pejabat lain dari Pemkab Tojo dan Morowali, sebagai Kabupaten tetangga Poso.

Pesawat Express Air yang akan melayani rute Makassar-Poso dan Poso-Makassar tersebut memiliki kapasitas 30 tempat duduk. Jadwal penerbangan dilakukan dua kali seminggu yakni setiap Rabu dan Jumat.

Dengan beroperasinya maskapai Express Air, bandara Kasiguncu Poso resmi didarati dua pesawat komersial. Satu maskapai lain yang sudah lebih dulu melayani jalur dari dan ke Poso adalah SMACK Air. Maskapai tersebut saat ini melayani rute Makassar-Poso-Gorontalo dan Gorontalo-Poso-Makassar. Jadwal penerbangan tiga kali seminggu pada Senin, Kamis, dan Sabtu.

Menurut Kasim, kehadiran kedua maskapai penerbangan ini diharapkan semakin memudahkan masyarakat untuk melakukan perjalanan ke Makassar dan sebaliknya. Selain itu juga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat serta lebih memacu roda pembangunan di daerah ini. Tarif tiket pesawat untuk tujuan Poso-Makassar tersebut berkisar Rp450 ribu sampai Rp500 ribu. (Ant/OL-04)
Sumber:http://www.mediaindonesia.com

4.405 Siswa SMP Sulteng tidak Lulus UN


KS/MI: Sebanyak 4.405 dari 39.395 atau 11,18% siswa SMP di 11 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah tidak lulus ujian nasional 2010 yang diumumkan serentak pada Jumat (7/5).

Angka ketidaklulusan tersebut lebih rendah jika dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang mencapai 12,94% atau sebanyak 4.773 siswa, kata Kepala Dinas Pendidikan Sulteng Abubakar Almahdali.

Ia mengatakan, Kabupaten Tojo Una-Una tercatat sebagai daerah dengan angka ketidaklulusan tertinggi yakni 501 dari 1.945 peserta UN atau 25,76%.

Sementara persentase ketidaklulusan UN terendah terjadi di Kabupaten Banggai Kepulauan yakni 2,88% atau 77 siswa dari 2.673 peserta.

Almahdali mengatakan, sebanyak empat sekolah di Sulteng mencatat angka kelulusan 100 persen yaitu SMP Model Madani Palu, SMP Negeri Satu Atap Palu, SMPN 2 Luwuk Timur, dan SMP Alkhairaat Parigi.

Selain itu, terdapat sejumlah siswa yang mendapatkan nilai 10 pada mata pelajaran tertentu, yakni empat siswa mendapat nilai sempurna pada Bahasa Indonesia, 20 siswa pada Bahasa Inggris, 15 siswa pada matematika, dan 28 siswa pada mata pelajaran IPA.

Almahdali mengatakan siswa yang tidak lulus UN dapat mengikuti UN ulangan yang akan berlangsung 17-20 Mei 2010. "Kualitasnya sama, dan peserta UN ulangan diharap tetap serius mengikuti ujian tersebut," katanya.

Selain itu, dia mengatakan hasil UN ulangan tetap bisa digunakan untuk mendaftar di sekolah favorit. "Jangan rendah diri, tidak ada siswa yang bodoh, hanya kelulusannya yang tertunda," katanya.(Ant/rn/OL-1)
Sumber:http://www.mediaindonesia.com
 
Support : Copyright © 2011. KORAN SULTENG - All Rights Reserved