Wapres: Generasi Muda Harus Jadi "Pandu", Bukan Pengekor

Senin, 12 April 2010


KS/KOMPAS.com — Wakil Presiden Boediono menyatakan, para pelajar sebagai generasi muda yang akan menjadi calon pemimpin bangsa masa datang harus seperti "pandu" dalam lagu "Indonesia Raya" yang berada paling depan dan bukan pengekor. Sebab, generasi muda akan mewarisi masa depan bangsa. Untuk berdiri paling depan, "pandu" tak hanya dilengkapi dengan kemampuan teknis dan pengetahuan semata, tetapi juga karakter dan akhlak memimpin masa datang.

Hal itu disampaikan Wapres Boediono saat silaturahim dengan Pelajar Madrasah Aliyah Al-Khairat dan komunitas pendidikan se-Kota Palu di Kampus Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (9/4/2010) pagi waktu setempat. Dalam acara itu, Boediono didampingi tujuh menteri kabinet dan satu wakil menteri serta deputi dan staf Wapres. Tujuh orang menteri itu adalah Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Pertanian Suswono, Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Sosial Salim Segaf Al'Jufrie serta Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti M Hatta, juga Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak. Hadir pula Gubernur Sulteng HB Paliudju didampingi Wakil Gubernur Sulteng Achmad Yahya dan Wali Kota Palu Rusdi Mastura serta pimpinan daerah se-Sulteng.

Sebelum menyampaikan pidatonya, Boediono mengutip lagu "Indonesia Raya" karya WR Soepratman, yang baru dinyanyikan dalam kunjungan kerja itu. "Di sanalah aku berdiri, jadi pandu Ibuku.... Syair lagu Indonesia Raya itu, maknanya sangat mendalam bagi generasi muda. Bukan hanya berdiri di sana, akan tetapi juga menjadi pandu Ibuku, yaitu pandu yang artinya berada di depan. Jadi, pandu adalah pemimpin dan bukan pengekor," tandas Boediono. Menurut Boediono, "Kalau kita berikrar seperti itu, maka kita harus menjadi orang yang berdiri di depan dan harus berinisiatif dan memimpin bagi semua pihak."

Dikatakan Boediono, lembaga pendidikan dan pengajaran didirikan untuk menghasilkan para pandu-pandu atau pemimpin di masa depan. "Tak ada tujuan lain dari pendidikan, kecuali menghasilkan generasi muda dan calon-calon pemimpin di masa datang yang memiliki kemampuan, pengetahuan, dan karakter dan akhlak."

Boediono menambahkan, suatu bangsa akan maju jika generasi muda mempunyai kualitas dari generasi sebelumnya. "Generasi sekarang ini memegang tanggung jawab untuk mengelola bangsa, dan akan diganti generasi berikutnya yang diharapkan lebih baik lagi di berbagai bidang. Bukan hanya kemampuan dan keterampilan belaka, akan tetapi juga karakternya. Proses ini bisa dilakukan terus-menerus jika bangsa Indonesia ingin terus maju. Inilah kunci mendidik generasi muda yang lebih baik di masa berikutnya. Ini akan menjadi tanggung jawab komunitas pendidikan semuanya," jelas Boediono.

Namun, kata Boediono, yang paling penting untuk mewujudkan kemajuan melalui pendidikan yang bermutu adalah siswa sendiri yang diajar dan dididik menjadi calon. "Ibarat bahan mentah, para siswa dan pelajar akan bisa diproduk menjadi lebih baik baik lagi. Proses ini tugas semuanya, komunitas pendidikan. Pemerintah memang harus bertanggung jawab memajukan pendidikan di Tanah Air. Tidak bisa diserahkan ke swasta saja. Ini ditunjukkan lewat anggaran pendidikan," demikian Boediono.
Sumbger: http://nasional.kompas.com
Share this article :

1 komentar:

 
Support : Copyright © 2011. KORAN SULTENG - All Rights Reserved