JK Tinjau "Proyek Obsesi" Plta Sulewana

Kamis, 22 April 2010

KS/ANTARA News - Mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla (JK) meninjau proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Sulewana, yang selama ini menjadi obsesinya.

"Ini proyek obsesi saya," kata mantan Wapres Jusuf Kalla saat turun dari mobil begitu tiba di lokasi PLTA Sulewana, Pamona Utara, Poso, Kamis.

Dengan muka cerah penuh senyum, Jusuf Kalla menjelaskan kenapa proyek PLTA kapasitas 185 MW ini menjadi obsesi dalam hidupnya.

"Dulu saya damaikan Poso. Orang akan bisa terus berdamai kalau ekonomi meningkat. Dan listrik inilah intinya," kata Jusuf Kalla.

Kehadiran Jusuf Kalla ke lokasi PLTA Sulewana bersama lima "dinasti" Kalla dari dua generasi. Dengan menggunakan pesawat pribadi BAE 124-200 dalam rombongan Jusuf Kalla juga ikut adik-adiknya Suhaeli Kalla, Ahmad Kalla, Halim Kalla dan putranya Solikin Kalla.

"Baru kali ini enam Kalla bersama satu pesawat," kata Jusuf Kalla saat dalam penerbangan dari Halim Perdana Kusuma ke bandara Kasiguncu, Poso.

Menurut Kalla, PLTA Sulewena dijadwalkan selesai akhir tahun 2010 dan akan mensuplai wilayah Tentena, Palu dan Palopo. Pembangunan PLTA Sulewana dimulai sejak 2003 dan dibangun oleh PT Poso Energi, salah satu anak perusahaan PT Bukaka Teknik Utama.

"Kita mulai proyek ini tanpa ada bank yang membantu. Ini tidak menggunakan dana APBN," kata Jusuf Kalla.

Menurut Kalla, proyek PLTA Sulewana ini merupakan salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia sebenarnya membangun dengan kemampuan sendiri. Jusuf Kalla menegaskan bahwa apa yang dilakukannya merupakan bukti nyata dari apa yang selama ini diucapkan.

"Saya tidak omong saja, saya bukti," kata Jusuf Kalla.

PLTA Sulewana ini menggunakan air dari danau Poso yang melalui sungai Poso.

Menurut Komisaris Utama PT Poso Energi Ahmad Kalla, pembangunan PLTA Sulewana ini menghabiskan dana total sekitar Rp3 triliun. Saat ini, tambahnya, sudah ada sindikasi bank yang turut membiayainya yakni BRI, BNI, Mandiri, Bukopin dan Panin.

"Selain bangun pembangkit ini, kami juga bangun jaringan transmisi sepanjang 270 kilometer," kata Ahmad.

Listrik yang dihasilkan PLTA Sulewana ini nantinya akan dijual ke PT PLN seharga Rp400 per Kwh. Menurut Ahmad, harga ini jauh lebih murah jika dibandingan listrik diesel yang bisa mencapai rata-rata Rp2.000 per Kwh.

"PLTA Sulewana ini setara dengan Jatiluhur, tetapi biaya pembangunannya paling murah," kata Ahmad Kalla.
(J004/B010)

Dua Pelaut Indonesia Jadi Pahlawan di Korsel

(ANTARA (News) - Dua pelaut Indonesia dipandang telah menjadi pahlawan bagi Korea Selatan setelah keduanya, beserta lima pelaut Korea Selatan yang mengawaki kapal ikan mereka, tewas tenggelam di perairan barat negara ini.

Jenazah dua pelaut itu, Lambang Nurcahyo (36) sudah ditemukan namun satu lainnya, Yusuf Harefa (35) hingga kini masih hilang setelah kapal ikan mereka, Geumyang No. 98, tenggelam akibat bertabrakan dengan sebuah kapal kargo Kamboja.

Kapal ikan dengan dua awak pelaut RI itu ketika itu sedang turut dalam operasi pencarian korban-korban tenggelamnya kapal AL Korsel Cheonan, yang diperkirakan dihantam torpedo Korea Utara, 20 hari lalu.

Surat kabar Korea Times hari Kamis (22/4) dalam tajuk rencananya menyesalkan sikap Presiden Korsel Lee Myung-bak yang Senin lalu lewat pesan nasionalnya menyebutkan nama masing-masing dari 46 anggota AL Korsel yang tewas di kapal Cheonan, namun tanpa menyebutkan sama sekali nama tujuh awak kapal Geumyang No. 98.

"Seperti para pelaut AL yang gugur itu, para nelayan Geumyang itu juga merupakan pahlawan-pahlawan yang telah mengambil risiko nyawa mereka untuk menyelamatkan korban-korban pelaut AL tersebut," kata Korea Times.

Meski demikian, menurut surat kabar tersebut, Pemerintah Korsel lewat Kedutaan Besar Korsel di Jakarta telah menghubungi keluarga-keluarga kedua pelaut tersebut .

Korsel telah menyampaikan penyesalan mendalam atas terjadinya tragedi itu. Pemerintah Korsel pun telah menyatakan akan memberikan santunan baik kepada awak kapal Korsel maupun Indonesia dengan perlakuan setara sesuai undang-undang.

Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Korsel, Yu Mung-hwan, telah pula menyampaikan rasa simpatinya kepada dua pelaut Indonesia yang menjadi korban, dan telah menulis surat sehubungan dengan tragedi tersebut kedua keluarga para korban.

Dalam akhir tajuknya, Korea Times mengingatkan pemerintah setempat bahwa rakyat Indonesia mengamati apa yang sedang dilakukan Korea dan rakyat Korea untuk orang-orang sebangsa mereka. Ditegaskan, kini saatnya Korea menunjukkan bahwa negara ini sungguh teman baik Asia.

Dalam catatan, dua pelaut Indonesia yang menjadi korban itu merupakan bagian dari lebih kurang 500.000 atau sekitar 0,56 persen dari total tenaga kerja Indonesia.

Fakta itu menunjukkan kedua negara memiliki hubungan yang cukup kuat dalam sektor Industri terutama karena banyaknya TKI dari Indonesia yang memberi sumbangan bagi pengembangan industri Korsel.
(B005/B010)

Wapres: Generasi Muda Harus Jadi "Pandu", Bukan Pengekor

Senin, 12 April 2010


KS/KOMPAS.com — Wakil Presiden Boediono menyatakan, para pelajar sebagai generasi muda yang akan menjadi calon pemimpin bangsa masa datang harus seperti "pandu" dalam lagu "Indonesia Raya" yang berada paling depan dan bukan pengekor. Sebab, generasi muda akan mewarisi masa depan bangsa. Untuk berdiri paling depan, "pandu" tak hanya dilengkapi dengan kemampuan teknis dan pengetahuan semata, tetapi juga karakter dan akhlak memimpin masa datang.

Hal itu disampaikan Wapres Boediono saat silaturahim dengan Pelajar Madrasah Aliyah Al-Khairat dan komunitas pendidikan se-Kota Palu di Kampus Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (9/4/2010) pagi waktu setempat. Dalam acara itu, Boediono didampingi tujuh menteri kabinet dan satu wakil menteri serta deputi dan staf Wapres. Tujuh orang menteri itu adalah Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Pertanian Suswono, Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Sosial Salim Segaf Al'Jufrie serta Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti M Hatta, juga Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak. Hadir pula Gubernur Sulteng HB Paliudju didampingi Wakil Gubernur Sulteng Achmad Yahya dan Wali Kota Palu Rusdi Mastura serta pimpinan daerah se-Sulteng.

Sebelum menyampaikan pidatonya, Boediono mengutip lagu "Indonesia Raya" karya WR Soepratman, yang baru dinyanyikan dalam kunjungan kerja itu. "Di sanalah aku berdiri, jadi pandu Ibuku.... Syair lagu Indonesia Raya itu, maknanya sangat mendalam bagi generasi muda. Bukan hanya berdiri di sana, akan tetapi juga menjadi pandu Ibuku, yaitu pandu yang artinya berada di depan. Jadi, pandu adalah pemimpin dan bukan pengekor," tandas Boediono. Menurut Boediono, "Kalau kita berikrar seperti itu, maka kita harus menjadi orang yang berdiri di depan dan harus berinisiatif dan memimpin bagi semua pihak."

Dikatakan Boediono, lembaga pendidikan dan pengajaran didirikan untuk menghasilkan para pandu-pandu atau pemimpin di masa depan. "Tak ada tujuan lain dari pendidikan, kecuali menghasilkan generasi muda dan calon-calon pemimpin di masa datang yang memiliki kemampuan, pengetahuan, dan karakter dan akhlak."

Boediono menambahkan, suatu bangsa akan maju jika generasi muda mempunyai kualitas dari generasi sebelumnya. "Generasi sekarang ini memegang tanggung jawab untuk mengelola bangsa, dan akan diganti generasi berikutnya yang diharapkan lebih baik lagi di berbagai bidang. Bukan hanya kemampuan dan keterampilan belaka, akan tetapi juga karakternya. Proses ini bisa dilakukan terus-menerus jika bangsa Indonesia ingin terus maju. Inilah kunci mendidik generasi muda yang lebih baik di masa berikutnya. Ini akan menjadi tanggung jawab komunitas pendidikan semuanya," jelas Boediono.

Namun, kata Boediono, yang paling penting untuk mewujudkan kemajuan melalui pendidikan yang bermutu adalah siswa sendiri yang diajar dan dididik menjadi calon. "Ibarat bahan mentah, para siswa dan pelajar akan bisa diproduk menjadi lebih baik baik lagi. Proses ini tugas semuanya, komunitas pendidikan. Pemerintah memang harus bertanggung jawab memajukan pendidikan di Tanah Air. Tidak bisa diserahkan ke swasta saja. Ini ditunjukkan lewat anggaran pendidikan," demikian Boediono.
Sumbger: http://nasional.kompas.com

DIBUKA BEASISWA KULIAH DI AUSTRALIA 2010

Sabtu, 03 April 2010

Jakarta, Kominfo Newsroom -– Pendaftaran untuk Australian Development Scholarships (ADS) 2010 sudah dibuka. Bagi Warga Negara Indonesia yang ingin turut membentuk masa depan bangsa, diundang untuk mengikuti program ini.

''Beasiswa ini bertujuan untuk memperkuat sumber daya manusia dan pertumbuhan di Indonesia dan merupakan contoh yang bagus mengenai bagaimana kedua Negara bekerjasama membangun hubungan antar manusia yang signifikan,'' kata Duta Besar Australia Bill Farmer di Jakarta, Senin (16/6) petang.

Program beasiswa senilai AUD$ 40 juta (Rp. 300 milliar) ini menawarkan kesempatan pada warga Indonesia untuk meraih gelar Master atau Doktor di universitas Australia dalam bidang studi yang signifikan bagi pembangunan ekonomi dan sosial.

Beasisw a ini untuk mereka yang mempelajari bidang manajemen ekonomi, good governance, pendidikan, demokrasi, keadilan serta keselamatan dan kedamaian. Bidang-bidang studi yang ditawarkan tersebut ditinjau tiap tahun berdasarkan kebutuhan pembangunan Indonesia.

Autr alia menyediakann hingga 300 beasiswa pasca sarjana setiap tahun bagi Warga Negara Indonesia untuk mendapatkan pendidikan serta merasakan cara hidup di Australia dan berbagi kekayaan warisan budaya Indonesia dengan Australia.

''Pe ngalaman akademis dan pribadi yang didapat melalui besiswa ini akan dilengkapi dengan keterampilan untuk mendorong perubahan dan mempengaruhi hasil pembangunan Indonesia sekembalinya mereka ke tanah air,'' kata Bill.

Pendaftar an tahun penerimaan 2010 ditutup 4 September 2009. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.adsindones ia.or.id atau www.australian scholarship.gov.au (T.Rn/id)
 
Support : Copyright © 2011. KORAN SULTENG - All Rights Reserved