Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Semarak Festival Rakyat Morowali

Minggu, 27 Februari 2011



Liputan6.com, Morowali: Banyak cara mempertahankan tradisi leluhur. Salah satunya menggelar pesta rakyat seperti yang dilakukan ribuan rakyat suku Bajo di Pulau Kalaroan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Ahad (27/2). Mereka biasa menyebut pesta rakyat itu Festival Bajo Pasangkayang.

Pagelaran festival rakyat suku Bajo kali pertama ini ditandai dengan pengibaran bendera suku bajo. Suara terompet dari kerang ala suku Bajo juga meramaikan festival. Anak-anak hingga orang dewasa antusias mengikuti festival tersebut.

Melihat antusias warga, Kementrian Perikanan dan Kelautan akan menjadikan festival suku Bajo dalam agenda pariwisata internasional.

Potensi rumput laut yang dikembangkan suku Bajo juga menjadikan Kabupaten Morowali sebagai minapolitan percontohan yang berbasis perikanan budidaya dengan komoditas rumput laut. Bahkan pada 2014 produksi rumput laut ditargetkan mencapai 10 juta ton.(AIS)

Sumber:
Liputan6.com

Transportasi Jadi Kendala Pengembangan Pariwisata Sulteng

Jumat, 18 Februari 2011

Palu (ANTARA News) - Keterbatasan sarana dan prasarana perhubungan baik darat, laut maupun udara masih menjadi kendala mendasar dalam upaya memacu sektor kepariwisataan di Sulawesi Tengah.

"Para wisatawan terutama dari luar negeri masih sering mengeluhkan soal transportasi ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulteng Suaib Djafar saat dihubungi di Palu, Sabtu.

Meski pembangunan sektor perhubungan ini terus mendapat perhatian utama pemerintah, namun beberapa obyek wisata andalan Sulteng masih sulit dijangkau dalam waktu yang relatif singkat dan murah.

Ia memberi contoh Taman Laut Kepulauan Togian di Kabupaten Tojo Una Una.

Untuk menjangkau kawasan wisata dengan keindahan taman lautnya itu, seorang wisatawan harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 10 jam dari Palu menuju Poso dan Ampana, kemudian naik kapal feri ke Togian sekitar lima jam atau kalau menggunakan 'speedboat' selama dua jam namun biayanya sangat mahal.

Wisatawan bisa juga masuk dari Manado, Sulawesi Utara, lalu naik mobil ke Gorontalo selama delapan jam kemudian naik feri ke Togian selama enam jam, namun rute kapal feri Gorontalo-Togian terbatas hanya tiga kali dalam sepekan.

"Ada pula wisatawan yang masuk melalui Makassar. Dari Makassar mereka singgah dulu di Tana Toraja dengan perjalanan sekitar enam jam, lalu dari Toraja ke Ampana melalui Poso menggunakan bis dengan perjalanan sekitar 12 jam. Sangat melelahkan," ujarnya.

Khusus untuk obyek wisata Kepulauan Togian dan Danau Poso, kata Suaib, dari segi prasarana jalan sudah cukup memadai, hanya saja armada angkutan yang nyaman masih sangat terbatas.

Namun demikian, katanya, pembangunan sektor perhubungan di Tojo Una una itu sedang dipacu. Pemkab setempat sedang membangun sebuah lapangan terbang yang diharapkan beroperasi tahun 2012 dan juga dermaga penyeberangan feri di Togian serta penambahan kapal menjadi dua buah yang akan melayani Ampana-Togian-Gorontalo.

"Jalan raya Ampana-Poso yang selama ini hanya sebagian yang berstatus jalan negara, kini semuanya sudah menjadi jalan negara sehingga biaya peningkatannya di masa mendatang diharapkan lebih maksimal," kata Bupati Tojo Una una Damsyik Ladjalani yang dihubungi terpisah.

Suaib Djafar mengatakan, tahun 2011 ini, sektor kepariwisataan Sulteng diharapkan terus berkembang setelah pada 2010 mengalami masa kebangkitan dimana kunjungan wisatawan meningkat cukup signifikan dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sekitar 4.000 orang dan wisatawan nusantara lebih dua juta orang.

Sumber:Antara

Sulteng Kembangkan 5 Kawasan Wisata Potensial

Kamis, 17 Februari 2011

KBRN, PALU : Sebanyak lima kawasan wisata di Sulawesi Tengah menjadi konsep peraturan pemerintah bagi destinasi kepariwisataan di Indonesia. Hal itu disampaikan Direktur Produk Kepariwisataan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Achyarudin di depan peserta rapat koordinasi teknis perencanaan kebudayaan dan pariwisata Sulawesi Tengah di Palu Selasa (15/2) lalu.

Menurutnya, lima kawasan wisata di Sulteng yang dimasukkan dalam konsep peraturan pemerintah itu masing-masing Danau Poso di Kabupaten Poso, Tanjung Karang di Kabupaten Dongkala, Kepulauan Togean di Kabupaten Tojo Unauna, Taman Nasional Lorelindo, serta Kawasan Teluk Tomini. Achyarudin juga menilai tidak ada kota di provinsi Indonesia yang sama dengan keindahan Teluk Kota Palu yang menyerupai indahnya pesisir pantai selatan kota Prancis.


"Begitu saya mendarat di Kota Palu, saya kagum karena tidak ada kota di provinsi yang topografinya seindah Sulawesi Tengah. Ini menyerupai keindahan pesisir pantai selatan Prancis yang berada di kawasan teluk dan ada gunung," ungkap Achyarudin mengagumi.

Dia juga menambahkan bahwa keberadaan kota Palu sendiri masih jauh ketinggalan dari segi penataan dan kebersihan kota. Hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah serta masyarakat untuk melakukan perbaikan sehingga apa yang diinginkan untuk menjadikan Teluk Palu sebagai tujuan wisata primadona kota Palu yang benar-benar diminati oleh para wisatawan untuk berkunjung.

Sementara itu, Gubernur Sulteng diwakili sekretaris provinsi, Rais Lawangkona mengatakan pemerintah dan para pelaku usaha kepariwisataan di daerah ini, akan terus melakukan usaha semaksimal mungkin sehingga kawasan potensial yang ada dapat diberdayakan secara maksimal. (Muhammad Amiruddin/Rini/WDA)

Oleh Rini Hairani

Sumber:http://www.rri.co.id/

Banggai Kepulauan Miliki Banyak Mutiara Lain

Selasa, 14 Desember 2010


Koransulteng-- Banggai Kepulauan identik dengan Mutiara. Menyebut mutiara, pikiran orang langsung tertuju ke wilayah ujung propinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep). Karena sejak masa kolonialisme Jepang, daereh ini sudah dikenal sebagai penghasil mutiara terbesar. Tapi tahukah Anda kalau Bangkep (Banggai Kepulauan) tak sekedar punya mutiara. Ada "mutiara-mutiara’ lain yang nilai ekonomisnya tak kalah dengan mutiara sungguhan.

Sebutlah misalnya sebaran terumbu karang yang ternyata masih sangat rimbun. Di beberapa tempat bahkan bisa dijumpai berbagai tipe terumbu seperti barrier reef, atol reef, pringing reef, dan patch reef. Potensi ini belum seberapa. Masih banyak biota laut yang menghiasi hamparan terumbu karang tersebut. Bahkan menurut hasil penelitian belasan doktor ilmu kelautan dan biologi dari Coral Cay Conservation (CCC) Inggris, ada sedikitnya 485 spesies ikan, molucsa, dan kerang di perairan laut Bangkep. Bila jumlah spesiesnya saja sudah sebanyak itu maka jumlah populasinya jelas berlipat ganda lagi.

Di wilayah perairan ini ditemukan pula beberapa spesies ikan langka seperti Napoleon wrasse dan Cardinal fish Banggai. Jenis ikan Cardinal fish Banggai memiliki keunikan tersendiri. Ia bertelur, menetas, dan memelihara anaknya melalui mulut, hingga bisa mandiri selama beberapa pekan. Pada awal April 2001 lalu, stasiun televisi Jepang NHK pernah menayangkan pola hidup ikan ini dalam siaran khusus berdurasi 30 menit.

”Semua ini tentu ciptaan Tuhan yang sulit ditemukan di perairan laut bumi manapun,” ungkap DR Thomas Tomacik, salah seorang dari belasan peneliti yang melakukan penelitian di sana. Ia mengusulkan agar kawasan ini tidak cuma dijadikan tempat kegiatan ekonomi dan pariwisata saja, tetapi juga laboratorium kelautan.

Yuk wisata ke Bangkep.

Sumber: www.banggai-kepulauan.go.id
Kredit Foto: http://telukpalu.com/

'Keong Racun' Lagu Favorit Kontes Sapi Sono'

Minggu, 24 Oktober 2010


Koransulteng -— Lagu "Keong Racun" menjadi tembang favorit dalam kontes sapi sonok yang digelar di halaman Bakorwil IV, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (23/10/2010).

Lagu yang diciptakan Subur Tahroni alias Buy Akur yang pernah populer di internet ini menjadi lagu favorit pengiring sapi sonok dalam kontes kecantikan sapi saat pasangan sapi tiba di garis finis guna mendapatkan penilaian dewan juri.

Irama gamelan dari kelompok musik Putri Sastria asal Sumenep yang dipadu dengan musik dangdut ala campur sari Jawa Timuran yang terdengar rancak seolah menambah suasana kontes kecantikan sapi menjadi semakin meriah.

"Inilah kelebihan kontes sapi sonok dibanding karapan sapi di Lembah Palu, Sulteng. Jadi, lebih mengedepankan seni budayanya," kata Ketua Paguyuban Sapi Sonok Madura Haji Zainuddin.

Zainuddin, pemilik sapi "Titisan Air Mata", yang juga tercatat sebagai pemilik dari sapi tercantik dalam kontes sapi sonok 2010 kali ini mengemukakan, sapi sonok pantas menjadi kebanggaan orang Madura karena jenis kesenian tersebut hanya berada di Madura. Sementara itu, di daerah lain belum ada kesenian sapi sonok.

Kontes sapi sonok yang diikuti 32 pasangan sapi betina se-Madura ini digelar di lapangan Bakorwil IV, Pamekasan, Sabtu.

Menurut Zainuddin, dalam kontes sapi sonok ini sebenarnya tidak ada pemenang. Namun, ada beberapa kriteria pasangan sapi yang dianggap memenuhi kriteria kontes. Kriteria itu antara lain kaki sapi tidak menginjak garis pembatas yang ada di sampingnya.

"Yang kedua, langkah kaki sapi selaras dengan alat perangkai sapi atau pangonong," katanya.

Ketentuan berikutnya, kata dia, kaki sapi harus serempak saat memasuki papan gapura di garis finis.

"Jika kaki menyentuh garis pembatas yang terletak mulai garis star hingga garis finis, maka nilainya akan dikurangi lima," katanya.

Demikian pula jika kaki sapi tidak serentak saat tiba di garis finis papan gapura, nilainya juga akan dikurangi lima poin.

Pergelaran kontes sapi sonok di lapangan Bakorwil IV Pamekasan yang dimulai pukul 08.30 dan berakhir pukul 15.30 ini terlihat sangat meriah. Pengunjung yang hadir bukan hanya warga Madura dari empat kabupaten, melainkan juga turis asing yang menyaksikan langsung ajang kontes kecantikan sapi tersebut.

Titian Air Mata, pasangan sapi sonok asal Pamekasan menjadi sapi sonok terfavorit dalam ajang Kontes Sapi Sonok 2010 di halaman Bakorwil Pamekasan, Pamekasan, Madura, Sabtu (23/10)
Sejumlah pejabat dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dan Dinas Pariwisata Jatim juga hadir menyaksikan kontes sapi sonok di Pamekasan itu secara langsung.

Menurut Kepala Bakorwil IV Pamekasan Edi Santoso, kegiatan kontes sapi sonok ini untuk melestarikan seni budaya yang ada di Madura.

"Kami berharap, dengan kegiatan seperti ini, seni budaya Madura, khususnya sapi sonok, akan terangkat dan tetap lestari," harapnya.

Mengintip Leluhur Suku Pamona di Gua Latea, Poso

Selasa, 19 Oktober 2010


Koransulteng --Pantas saja Antropolog awal abad 20 menggolongkan Poso sebagai suku Toraja. Ternyata ada kesamaan kebiasaan menyimpan mayat di dalam gua. Sayangnya, kebiasaan itu sudah tidak dipelihara lagi oleh orang Pamona di Kabupaten Poso, Sulteng.
Gua Latea merupakan gua yang dijadikan tempat penguburan orang-orang zaman dahulu seperti halnya kuburan batu di Toraja. Gua ini merupakan pekububuran leluhur suku pamona yang berasal dari bukit wawolembo. Namun, tidak seperti halnya di Toraja, di gua ini hanya ditemukan beberapa tengkorak dan tulang belulang saja.

Sistem penguburan seperti ini bagi masyarakat Pamona diperkirakan berakhir sekitar abad ke 19 dimana saat itu misonaris-misionaris Kristen sudah mulai memasuki wilayah-wilayah suku pamona. Situs ini dipugar tanggal 2 Juni-30 November 1994 oleh ditjen kebudayaan departemen pendidikan dan kebudayaan provinsi Sulteng. Pada awal penemeuan situs ini, ditemukan empat pasang peti mati dan 36 buah tengkorak. Gua latea sendiri merupakan gua kapur yang usianya diperkirakan sudah sekitar 30 juta tahun.

Lokasi goa ini tidak sulit dijangkau, dari terminal Tentena kita dapat menggunakan ojek ataupun bisa dengan berjalan kaki. di pinggir jalan ke arah pasar Tentena akan ada tulisan lokasi gua Latea, dari papan informasi tersebut berjalan kaki sekitar 700 meter melewati perkebunan cokelat dan perkebunan cengkeh.kebetulan saat kami menuju goa latea kami menemukan warga yag tengah memanen cengkeh. Sebenarnya perjalanan menuju goa latea sangat menyenangkan karena di sepanjang jalan kita akan melewati kebun cokelat milik warga, pohon cengkeh, dan juga sungai yang masih bersih. Namun sayang, kurangnya informasi tentang gua membuat masyarakat awam tidak mengetahui keberadaaan goa latea ini. Padahal jika informasi diterus disiarkan dan pengelolaan situs ini juga terus diperbaiki maka bisa jadi gua ini bisa dikenal seperti tempat wisata yang ada di sekitarnya yaitu Danau Poso.Yuk, ke Poso lagi!
Laporan: Adhadi Praja - SULTENG
Sumber:http://aci.detik.com

Togian, Andalan Wisata Bahari Sulteng

Rabu, 19 Mei 2010



Koran Sulteng.com - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan Taman Nasional Kepulauan Togian di Kabupaten Tojo Una-una sebagai pusat pengembangan wisata bahari yang akan dikelola secara lebih profesional dan dijual secara aktif ke mancanegara.

"Togian sangat menarik dan sudah dikunjungi banyak wisatawan. Kami akan terus mengembangkannya sehingga lebih banyak lagi wisatawan mancanegara datang ke sana," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Tengah, Suaib Djafar di Palu, Rabu (19/5/2010).

Pengembangan Togian akan melibatkan pihak swasta, baik asing maupun domestik yang akan membangun akomodasi dan menyediakan sarana bagi wisatawan yang akan menikmati keindahan alam bawah laut di kawasan itu.

Menurut Suaib, Pemda akan mendukung kegiatan promosi dengan menggelar Festival Bahari Kepulauan Togian setiap tahun, dan untuk 2010, festival akan digelar 23-27 Juli 2010 di Ampana, Ibu Kota Kabupaten Tojo Una-una, daerah pemekaran Kabupaten Poso pada 2002.

Mengenai akses, kata Suaib, Pemkab Tojo Una-una sedang membangun sebuah lapangan terbang di Ampana yang bisa didarati pesawat berbaling-baling berkapasitas sekitar 50 orang.

Akses darat cukup lancar yakni jalan trans Sulawesi sekitar 150 kilometer dari Poso, sementara Kota Poso bisa djangkau dengan penerbangan langsung dari Makassar (Sulsel) atau Palu (Sulteng).

Direktur Avia Tour, perusahaan perjalan wisata terbesar di Sulteng, Ary Wowor pada kesempatan terpisah mengatakan, Taman Laut Togian saat ini dikunjungi ratusan wisatawan asing dari Eropa yang menikmati surga bawah laut di perairan itu.

"Sarana akomodasi di sana sampai-sampai tidak mampu menampung turis Eropa itu sehingga mereka terpaksa tidur di lantai penginapan yang dikelola pengusaha bule," ujarnya.

Menurut Ary, kunjungan yang membludak ini diperkirakan terjadi sampai Agustus 2010 karena banyak turis memanfaatkan libur musim panas di negaranya untuk datang ke Indonesia.

Turis asing ini, kata Ari yang juga Ketua Dewan Penasihat Asita Sulteng itu, masuk Togian melalui Denpasar (Bali) lalu ke Makassar (Sulsel) dengan pesawat terbang dan Tanah Toraja lewat jalan darat sekitar 300 km kemudian ke Togian juga via darat sekitar 350 km.

Menurut dia, wisatawan asing ramai masuk Togian karena pengusaha perjalanan wisata di Bali dan Jakarta serta sejumlah kota di Indonesia aktif menjual Togian setelah Asita Sulteng membawa mereka melihat keindahan Togian pada 2007.(http://travel.kompas.com)

Peserta Festival Danau Lindu Keluhkan Infrastruktur

Senin, 07 Desember 2009




KS/MI : Sejumlah warga, termasuk para peserta Festival Danau Lindu (FDL) ke-1 mengeluh selain karena prasana jalan dan listrik belum memadai, mereka juga kesulitan melakukan komunikasi keluar.

"Kalau kami mau komunikasi dengan menggunakan handphone harus pergi ke Sadaunta, desa yang berada pada poros jalan utama Palu-Kulawi dengan menempuh perjalanan dua jam menggunakan sepeda motor," kata Bernad, 35, salah satu peserta FDL dari Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Senin (7/12).

Menurut dia, seharusnya sebelum melaksanakan kegiatan seperti itu, Pemkab Sigi terlebih dahulu membenahi berbagai sarana infrastruktur seperti jalan, listrik dan telekomunikasi.

Hal senada juga disampaikan Karya, warga desa Anca, desa yang bertetangga dengan Tomado yang menjadi sentral lokasi pelaksanaan FDL ke-1. Ia mengatakan, sejak Provinsi Sulteng berdiri hingga kini,  Kecamatan Lindu masih terisolasi.

"Bayangkan saja kalau ada warga yang sakit keras untuk berobat di rumah sakit di Palu harus dipikul degan jalan kaki sepanjang 12 kilometer ke desa Sadaunta, dan dari sana baru naik angkutan pedesaan menuju Palu," katanya.

Begitu pula jika hendak menelepon, terpaksa harus pergi ke Sadaunta, Kecamatan Kulawi baru bisa melalukan komunikasi keluar. "Ini kendala utama yang dihadapi masyarakat Lindu," katanya.

Ia berharap pemerintah dalam tahun-tahun mendatang memprioritaskan pembangunan sarana dan prasana fital seperti pembukaan akses jalan memadai, kelistrikan, dan fasilitas telekomunikasi guna melepaskan Kecamatan Lindu dari keterisolasian, dan ketertinggalan dari Kecamatan lainnya di Sulteng.

Masyarakat berharap ketika FDL ke-2 dilaksanakan pada 2010, akses jalan menuju dataran Lindu paling tidak sudah memadai. Begitu halnya dengan listrik dan telekomunikasi sudah ada.

Kalau kondisinya masih seperti sekarang ini, maka besar kemungkinan FDL tidak akan berhasil seperti yang diharapkan Pemprov Sulteng dan Pemkab Sigi.

Apalagi, kata Karya, jika sampai FDL sudah masuk dalam kalender tetap Dinas Periwisata Sulteng seperti FDP (Festival Danau Poso) yang setiap tahun diselenggaran dan selama ini8 memberikan kontribusi besar bagi pendapatan asli daerah (PAD) dan juga devisa negara.

FDL ke-1 di pusatkan di desa Tomado, Ibu Kota Kecamatan Kulawi diikuti lebih 500 peserta dari 15 Kecamatan di Kabupaten Sigi, berlangsung tiga hari dari 5-7 Desember 2009 dan dibuka langsung oleh Gubernur HB Paliudju dan akan ditutup oleh bupati pada Senin (7/12) petang. (Ant/Ol-5)
http://www.mediaindonesia.com/

Jalan baru Boul-Parimo butuh Rp300 miliar

Kamis, 03 Desember 2009


PS -- Sulteng tengah berencana membangun jalan baru, yang menghubungkan Buol dan Parigi Moutong (Parimo). Jalur ini potensial mengembangkan dua daerah tersebut. Hanya, jalan sepanjang kurang lebih 100 kilometer itu, butuh dana tak sedikit, sekitar Rp300 miliar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sulawesi Tengah Moch Noer Mallo mengatakan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pembangunan jalan tersebut sudah rampung tahun ini.

"Kami tinggal menunggu penyelesaian DED [detail engineering design]-nya. Pengerjaan DED ini kan tidak butuh waktu lama," tuturnya, kemarin.

Dia memperkirakan 1 kilometer jalan tersebut menelan anggaran sekitar Rp3 miliar. "Kalau dananya mendukung, kami rencanakan pembangunannya mulai 2010." (Antara)
Sumber: http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/sup-properti/1id149841.html

Ketua HKI: Sulawesi Tengah Bisa Seperti Hong Kong

Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini

KS/VIVAnews - Ternyata  Sulawesi Tengah bisa seperti Hong Kong, asal pengembangan kawasan industrinya dipadu dengan kawasan wisata.  Demikian dikatakan Ketua Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Hendra Lesmana.

"Sulawesi Tengah lokasinya bagus untuk kawasan industri. Lautnya dalam dan bisa dipadukan dengan sektor pariwisata, seperti Hong Kong," kata Hendra di sela-sela Rakernas XII Himpunan Kawasan Industri Indonesia di Jakarta, Rabu 2 Desember 2009.

Untuk menjadi suatu kawasan industri, dia mengatakan, daerah harus memiliki lahan minimal 50 hektar dan ada sungai mengalir sebagai air buangan dan air bahan baku. Industri dilarang mengambil air bawah tanah karena akan merusak lingkungan. Selain itu, lahan yang digunakan juga tidak boleh mengakuisisi lahan sawah produktif, hanya sawah non produktif saja yang diperbolehkan.

Di Pulau Sulawesi sendiri, menurut Hendra, baru tiga kawasan industri yang sudah ada, yakni di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

"Tugas pemerintah tinggal menyiapkan infrastruktur, jalan tol, jembatan, dan kalau bisa boulevard di pantai utara menuju pelabuhan dibuat lebih bagus," kata dia.

Data HKI menyebutkan, jumlah resmi kawasan industri yang terdaftar sebagai anggota sebanyak 88 kawasan industri, di mana 12 di antaranya dimiliki BUMN dan sisanya 76 kawasan milik swasta.

Secara penyebaran lokasi, sebanyak 58 bertempat di Pulau Jawa, 26 di antaranya di Batam, tiga di Sulawesi, dan baru satu di Kalimantan.

Dari status investasinya, dari 88 kawasan industri, sebanyak 16 kawasan didanai asing (PMA), 63 diantaranya penanaman modal dalam negeri (PMDN), dan 9 sisanya non fasilitas.

"Dari 88 kawasan industri, sudah beroperasi 72 kawasan industri sedangkan sisanya masih dalam tahap pembangunan," ujar Hendra.

hadi.suprapto@vivanews.com
Sumber: http://bisnis.vivanews.com/news/read/110667-_sulawesi_tengah_bisa_seperti_hong_kong_
 
Support : Copyright © 2011. KORAN SULTENG - All Rights Reserved